Logo Geevv

Peter Smith, Guru Gamelan yang Cinta Solo

Saturday, 07 Jan 2017 - 18.15 WIB

Sewaktu masih menjadi mahasiswa di Universitas York, Peter Smith berkenalan dengan alat musik gamelan. Saat itu ada seorang profesor yang membeli gamelan dan membawanya ke universitas. Peter yang awalnya senang bermain piano langsung berpindah menyukai gamelan. “Kalau piano main sendiri, tapi gamelan ada suasana bersama, ada rasa berkumpul,” tuturnya. Ia pun berniat memperdalam pengetahuannya mengenai instrumen musik Jawa tersebut.

Peter Smith dan Kota Solo

Peter memperoleh beasiswa Darmasiswa untuk belajar di Solo pada tahun 1993. Saat itu, ia berencana tinggal satu tahun di Solo. Namun, siapa sangka, ia justru tinggal di Solo selama 3 tahun karena menyenangi suasana Kota Solo.

“Tinggal di Solo seperti suasana di desa saat saya kecil. Di jalan, ketemu teman dan ngobrol. Saat saya kecil, ke toko dengan ibu tak bisa sebentar. Perjalanan lima menit, bisa setengah jam. Ketemu pak itu, bu itu, ngobrol-ngobrol. Solo ya seperti itu,” tambah Peter dalam bahasa Jawa. Peter bukan hanya mahir memainkan alat musik tradisional, ia juga fasih berbahasa Inggris dan tidak segan menerima julukan dirinya dengan nama khas jawa, yaitu Parto.

Menjadi Guru Gamelan di Inggris

Di Inggris, Peter bekerja sebagai guru musik. Setiap pekan, ia mengajar gamelan. Ia mengajar kelas pemula sampai yang sudah lanjut, di Southbank Centre, pusat kebudayaan terbesar di Inggris. Para murid yang diajarnya sering membawa makanan Indonesia seperti tempe goreng dan dadar gulung untuk dinikmati bersama-sama.

Gamelan di Southbank Centre telah ada sejak awal tahun 1980. Bahkan, di seluruh Inggris sendiri saat ini terdapat lebih dari 150 kelompok gamelan. Kalau bukan tanpa jasa Peter, mungkin gamelan tidak akan berkembang hingga sejauh itu. Sampai saat ini, Peter masih menyempatkan dirinya kembali ke Indonesia dua kali dalam setahun. Suasana kekeluargaan yang sangat menyenangkan selalu jadi alasannya pulang ke Kota Solo.

Kalau orang lain yang berada di luar negeri bisa mengapresiasi budaya Indonesia, bagaimana dengan kita? Yuk, mulai mempelajari budaya kita sendiri!

 

Oleh: Hana Adiningsih

Sumber: BBC